Skip to main content
RtiTalk
BudayaMasuk

Hidangan Tersembunyi yang Hanya Diketahui Penduduk Lokal Taiwan, Belum Tentu Tersembunyi di Tempat Wisata

G
Gina27 hari lalu
Ketika berbicara tentang masakan Taiwan, banyak orang pertama kali memikirkan pasar malam, bubble tea, xiaolongbao, atau mie sapi. Tentu saja, ini semua representatif, tetapi setelah tinggal di Taiwan cukup lama, Anda akan menemukan bahwa tempat-tempat yang benar-benar membuat Anda ingin kembali terkadang tidak ada di buku panduan wisata dan tidak selalu memiliki dekorasi yang indah. Ini bisa jadi danbing (crepe gurih) dari toko sarapan di sudut jalan, kedai mie di pasar yang hanya buka sampai siang, sepiring 'potongan hitam putih' yang disiapkan dengan ahli oleh seorang bibi, atau mungkin toko bento yang tampak biasa saja tetapi selalu penuh sesak selama jam makan. Banyak 'hidangan tersembunyi' Taiwan sebenarnya tidak sengaja disembunyikan; mereka hanya terlalu biasa. Bagi penduduk lokal, tempat-tempat itu bukanlah objek wisata tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari. Saat mencari makan untuk pertama kali, banyak orang asing terbiasa melihat peringkat Google atau rekomendasi media sosial. Ini berguna, tetapi di Taiwan, beberapa tempat makan kecil yang benar-benar populer mungkin tidak pandai dalam pemasaran online. Beberapa tempat tidak memiliki foto yang menarik, menu yang sangat sederhana, atau bahkan hanya daftar harga tulisan tangan di dinding. Namun, selama jam makan, pekerja kantoran, pelajar, atau pelanggan pasar di sekitar secara alami akan berdatangan. Untuk menemukan apa yang sering dimakan penduduk lokal, Anda dapat mengamati beberapa tempat: pasar tradisional, area dekat sekolah, gang-gang di distrik perkantoran, bagian belakang stasiun kereta, sekitar rumah sakit, dan toko-toko tua yang telah berdiri lama di area perumahan. Tempat-tempat ini mungkin tidak ideal untuk berfoto, tetapi biasanya sangat dekat dengan pola makan sehari-hari orang Taiwan. Toko sarapan adalah contoh yang bagus. Toko sarapan Taiwan menawarkan banyak pilihan: danbing, kue lobak (luobo gao), bola nasi (fantuan), sandwich, mie teppanyaki (tieban mian), burger, dan teh susu. Bagi pendatang baru, toko sarapan mungkin tampak seperti tempat untuk makan cepat; tetapi bagi banyak orang Taiwan, secara teratur mengunjungi toko sarapan tertentu adalah kebiasaan kecil yang akrab sebelum memulai hari. Beberapa orang suka danbing dengan keju, beberapa bersikeras memesan susu dingin ukuran besar, dan beberapa akan bangun ekstra pagi untuk mendapatkan bola nasi tertentu. Makanan ini tidak selalu mahal, tetapi memberikan perasaan kuat tentang 'Saya hidup di Taiwan'. Pada siang dan malam hari, toko bento, prasmanan mandiri, dan kedai mie juga patut diamati. Jika sebuah toko ramai dengan pekerja kantoran di dekatnya pada jam makan siang, itu biasanya menunjukkan setidaknya satu keuntungan yang konsisten: harga terjangkau, layanan cepat, porsi cukup, atau rasa yang sangat sesuai dengan selera penduduk setempat. Toko bento mungkin menawarkan paha ayam kecap, iga babi, perut babi kecap, atau fillet ikan; prasmanan mandiri memungkinkan Anda memilih hidangan sendiri, membuatnya lebih mudah untuk mengontrol porsi dan rasa. Bagi orang asing, prasmanan terkadang terasa seperti pameran kecil masakan rumahan Taiwan. Anda mungkin melihat sayuran tumis, tahu kecap, telur kukus, pare, ayam tiga cangkir (sanbei ji), telur orak-arik dengan tomat, atau berbagai hidangan pendamping yang tidak dapat dikenali namanya. Tidak masalah jika Anda tidak tahu cara memesan pada kali pertama, cukup ikuti orang di depan, ambil nampan, pilih hidangan Anda, dan bayar – Anda akan cepat belajar. Pasar tradisional juga sering memiliki banyak hidangan tersembunyi. Pasar pagi bukan hanya untuk membeli sayuran; mereka juga memiliki banyak kios makanan matang. Sup mie beras (mifeng tang), pangsit daging (rouyuan), puding nasi gurih (wanguo), telur dadar tiram (ajian), lumpia (runbing), nasi berminyak (youfan), bubur gurih (xianzhou), xiaolongbao, sup daging (rougeng), dan hidangan kecap (luwei) mungkin ditemukan di tepi pasar atau di gang-gang. Toko-toko ini terkadang hanya buka dari pagi hingga siang, dan tutup di sore hari, itulah sebabnya mereka memberi orang perasaan 'hanya penduduk lokal yang tahu waktunya'. Daya tarik makanan pasar bukan hanya rasanya, tetapi juga ritmenya. Pemiliknya mungkin sangat sibuk, dan pelanggannya juga sangat akrab. Anda tidak perlu banyak bicara; cukup amati bagaimana orang memesan, mengantre, dan apakah mereka mengambil peralatan makan sendiri, dan Anda secara bertahap akan memasuki lingkaran kehidupan kecil itu. Ada cara makan khas Taiwan lainnya, yaitu memesan 'sedikit dari semuanya' di kedai makanan ringan. Saat pergi ke kedai mie atau kedai makanan kecap, orang Taiwan sering memesan beberapa lauk tambahan selain hidangan utama. Tahu kering, rumput laut, telur kecap, kulit babi rebus, daging pipi babi rebus, sayuran rebus, dan tahu telur diawetkan adalah pilihan umum. Terkadang, semangkuk mie kering atau sup mie beras dengan sepiring lauk sudah merupakan makanan lengkap. Cara makan ini mungkin baru bagi orang asing karena menu tidak selalu tertulis dengan jelas. Beberapa lauk diletakkan di lemari kaca dan perlu ditunjuk; yang lain harus langsung diminta dari pemiliknya. Untuk pertama kalinya, Anda bisa mulai dengan barang-barang sederhana seperti tahu kering, telur kecap, atau sayuran rebus, dan secara bertahap mencoba bagian dan rasa lain setelah Anda terbiasa. Namun, 'rekomendasi penduduk lokal' tidak berarti semua orang akan menyukainya. Beberapa makanan Taiwan memiliki rasa yang lebih kuat, seperti tahu busuk (stinky tofu), kue darah babi (pig's blood cake), sup iga herbal obat (medicinal herbal pork rib soup), hot pot domba (lamb hot pot), ayam kecap wijen (sesame oil chicken), dan bebek jahe (duck in ginger broth). Beberapa orang langsung menyukainya, sementara yang lain membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Anda tidak perlu memaksa diri untuk menyukai makanan ini, tetapi Anda dapat memahami mengapa makanan ini menarik bagi banyak orang Taiwan. Misalnya, ketika cuaca menjadi dingin, banyak orang memikirkan bebek jahe, hot pot domba, atau ayam kecap wijen. Ini bukan hanya tentang makan sampai kenyang, tetapi juga perasaan 'menyehatkan diri' atau 'menghangatkan diri'. Kebiasaan makan ini agak mirip dengan bagaimana orang di berbagai daerah merawat tubuh mereka dengan sup, rempah-rempah, atau minuman panas mereka sendiri. Jika Anda ingin menemukan makanan yang lebih lokal, cobalah hindari tempat-tempat yang hanya ramai oleh turis dan perhatikan kapan penduduk lokal muncul. Kios-kios yang ramai di pasar pagi, toko bento yang antre di dekat kantor pada siang hari, dan kedai makan kecil di daerah perumahan yang selalu ramai dikunjungi pada malam hari, biasanya lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari daripada tempat-tempat yang 'paling terkenal'. Anda juga dapat bertanya kepada teman-teman Taiwan pertanyaan yang lebih spesifik, alih-alih hanya bertanya 'Di mana yang enak?': 'Ketika Anda malas memikirkan apa yang harus dimakan, ke mana Anda pergi?' 'Apakah ada toko di dekat rumah Anda yang sudah Anda datangi sejak kecil?' 'Apa yang dimakan oleh pekerja kantoran di sekitar sini?' Jawaban yang Anda dapatkan seringkali lebih menarik daripada peringkat online. Hidangan tersembunyi Taiwan bukanlah restoran misterius, juga tidak memerlukan antrean dua jam. Seringkali, itu hanyalah apa yang dimakan orang di suatu tempat setiap hari. Ketika Anda mulai tahu toko sarapan mana yang memiliki danbing lezat, pasar mana yang hanya memiliki nasi berminyak di pagi hari, atau toko bento mana yang memiliki lauk yang sesuai dengan selera Anda, itu sebenarnya berarti Anda tidak hanya mengunjungi Taiwan sebagai turis, tetapi secara bertahap mengenal kehidupan sehari-hari di sini.

Bagaimana perasaan Anda tentang artikel ini?

0 orang bereaksi

Komentar (0)

Belum ada komentar